Akhirnya Saya Percaya Ada Cinta yang Tak Pandang Apa Apa.


CINTA MEMANG BUTA 


Adakah cinta yang tak pandang apa-apa? Tak pandang harta, tak pandang kasta dan tak pandang rupa? Saya selalu menganggap cinta yang begitu itu cinta semasa kita masih sekolah rendah. Ketika kita masih begitu lugunya, memandang semua hal benar-benar dari hati. Yang sayangnya, seperti dikatakan Chairil Anwar dalam sajaknya, makin lama kita hidup makin jauh dari cinta yang demikian itu: Hidup hanya menunda kekalahan Makin jauh dari cinta sekolah rendah Dan tahu ada yang tak pernah diucapkan Sebelum akhirnya kita menyerah Cinta yang begitu itu hanya sesaat. Mungkin hanya sedetik dalam hidup. Sebab setelah itu, kita mungkin akan menggunakan otak kita. Lalu bertanya dalam hati, bagaimana mungkin saya mencintai seseorang tanpa melihat wajahnya; cantikkah dia? Hitam manis? Kuling langsat? Bening seperti kristal? Bagaimana mungkin saya mau berjudi, memperistri seorang wanita yang kelak akan menjadi beban? Bukankah lebih baik mempersunting seorang putri saudagar, atau anak pejabat, atau siapa pun itu, yang kelak bisa membuat kita menggapai masa depan lebih mudah? Tetapi tiap kali saya naik kereta rel listrik (krl) menuju kantor, saya selalu bertemu dengan pasangan yang saya anggap, benar-benar mencinta dan dicinta tanpa memandang apa-apa. Pasangan itu sama-sama tunanetra. Sama-sama mencari nafkah sebagai pengamen. Sama-sama bernyanyi. Dan dalam nyanyian-nyanyian mereka, saya menemukan arti hidup yang penuh makna. Menjalani hari demi hari, tanpa sedetik pun terpisah dari orang yang paling kita sayangi, dan bisa bernyanyi-nyanyi tentang cinta pula, bukankah itu hidup yang sangat membahagiakan?





Sumber : Kompasiana7

Comments

Popular posts from this blog

Cara Praktis Download Foto dan Video dari Instagram tanpa Aplikasi

Salam Rasulullah untuk Orang Majusi